
Pagi ini berjalan seperti biasa,nothing special. Aku berangkat ke sekolah seperti biasa dengan mobil setiaku (metro mini). Kami berdua terejebak macet (nggak berdua juga sih…sama penghuni metro mini lainnya),gara-gara macet aku terlambat dan walhasil aku kena hukuman,seperti hari-hari sebelumnya,aku disuruh lari keliling lapangan.
Bay the way any way bus way,aku belom ngenalin diri nih,aku Keysha,sebut saja aku Key. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Aku adalah orang ternarsiz di sekolah ku.
Ngomong-ngomong soal sekolah, aku sekolah di SMA HARAPAN BANGSA,di sana aku mempunyai tiga orang sahabat,nanti aku akan perkenalkan pada kalian. Sekarang aku harus masuk kelas.
KKKRRRRRRiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingngngngngng!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! (bel istirahat)
bel sudah berbunyi,pertanda aku harus segera kekantin,karena semua makanan sudah memanggil namaku. Mereka ingin segera masuk kedalam lambungku.
Ketiga sahabatku sudah menungguku di ambang pintu. Kami pun segera menuju kantin. Dan langsung memesan makanan (yaiyalah...masa mesen kaos kaki???!!@#%)
(Di Kantin)
“Gimana kabarnya si Damar,key? Udah nembak lo belom?” Tanya Aurel yang mempunyai body sekel dengan kulit putih merona. Mendengar pertanyaannya aku yang sedang menyantap bubur ayam pun tersedak.
“tau nggak?” tanyaku pada ketiga sahabatku yang sedang asik dengan makanannya masing-masing. Mereka pun langsung menatapku dengan tatapan penuh tanda Tanya.
“semalem Damar nembak gw!!!’ ucapku pada mereka. Mereka sangat terkejut. Fauziah yang memiliki body yang diidam-idamkan setiap kaum hawa,dengan kulit putih yang seakan-akan memancarkan cahaya,sampai tak berkata apa-apa.
”teruz lo terima?” tanya Jeny yg mempunyai body yg bertolak belakang dengan Fauziah (you know lah…).
“nggak gw jawab…gw masih ragu.” Jawabku dengan wajah sedikit malu.
“gw sih bilangnya mo jawab hari ini,tapi nggak tau deh,dia bakalan nembak gw lagi aa nggak…” lanjutku,lalu memasukan satu sendok bubur ayam ke dalam mulutku.
“kalo dia nembak lo lagi,trima?”Tanya cewek berjilbab panjang,yg biasa disapa Zi (Fauziah).
“nggak tau…” jawabku dengan polos.
“terima aja!!!” celetuk cewek yg biasa disapa El (Aurel),nggak lama setelah ia menelan bakso yg sudah dikunyah dengan sangat halus.
Wajaku pun memerah. Mereka tertawa dan terus menggodaku.
Saat sedang asik tertawa,Zi mengjak kami shalat. Hmmm....terkadang aku BT berteman sama Zi kalo dia udah nyuruh shalat ato kegiatan yg laennya,yg katanya wajib kita laksanakan.
”malez ah Zi,ntar ja deh dijamak di rumah.” jawabku pada Zi,El dan Jeny pun mengangguk.
”kok dijamak? Kan kalian nggak lagi dalam perjalanan?! Nggak bae nunda-nunda shalat!!!” ucap Zi dengan wajah sedikit kecewa.
“lagian shalat itu adalah tiang agama dan shalat itu bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar. Harus berapa kali sih gw bilangin kalo shalat itu…” belom sempet Zi meneruskan kotbahnya,Jeny sudah memotong ucapannya,”wajib bagi seorang muslim,klo ditinggalin dosa. Zi lo udah 1000kali ngomong soal kewajibam seorang muslim. Udah ayo shalat! Males banget sich lo pada!!” ucap Jeny sambil menarik tangan Aurel yg duduk di sebelahnya.
“ayo buruan! Lo mo si Zi ceramah ampe ni sekolah bubar? Ayo buruan!” lanjut Jeny sambil menyeret Aurel menuju masjid sekolah. Mendengar dan melihat tiongkah Jeny Zi hanya tersenyum manis. Aku dan Zi bejalan di belakang Jeny yg sibuk menggandeng Aurel.
KKKKRRRRRiiiiiiiiiiiiiiingngngngngngng!!!!!!!!!!!! (bel pulang)
Aku,Jeny dan Aurel berjalan menuju gerbang.
“si Zi mana,Key?” Tanya Jeny yg mempunyai koleksi jerawat di wajahnya (sungguh bertolak belakang dengan Zi).
“nggak tau tuh.” Jawabku sambil cilingak-cilinguk mencari batang hidung Zi.
“lho,lo kan duduk sebelahan ma dia? Kok bisa nggak tau? Aneh lo!!” tanya Aurel yg mempunyai rambut panjang tergurai berwarna coklat dengat wajah bingungnya.
”lo duduk di belakangnya?!” jawabku mencoba bela diri.”tau tuh dari istirahat tadi dia nggak ngomong apa-apa ma gw,di kelas diem aja. Dia marah kali ya ma gw?” lanjutku mejelaskan.
”marah? Marah kenapa? Mang dia lo apain?” tanya Jeny yg mempunyai rambut lurus berwarna coklat dengan model segi berponi guna menutup jidat lebarnya.
”Gw nggak tau..” jawabku,”mungkin...” ucapanku terpotong ketika bunyi klakson mobil honda jazz hitam milik Ryan (kakak kelasku) bersuara,lalu behenti disamping kami.
Kaca mobil pun terbuka,Damar yg membukanya mengeluarkan kepalanya dan berkata,”bareng yuk!! Ada yang mo gw omongin ma lo Key.” ucapnya dengan muka serius.
Aku memandang kedua sahabatku yg berdiri disampingku. Mereka memberi tanda setuju.
”boleh...” jawabku singkat sambil tersenyum.
Mobil pun melaju dengan sangat cepat menuju PS. Akhirnya sampe juga. Ryan langsung memarkirkan mobilnya. Kami pun turun dari mobilnya. Dan mencari tempat makan.
Kami pun duduk dan memesan makanan dan minuman.
Pesanan pun datang.
”Mar,katanya ada yg mo diomongin? Kasian tuh,key udah tegang gitu...”ucap Jrny mencoba memecahkan suasana yang sepi kaya kuburan. Sepontan aku mencubitnya yg duduk disampingku dengan sekuat tenaga.
”hmmm...gini...gimana ya ngomongnya?” jawabnya dengan wajah mulai memerah,aku pun dimikian.
”ngomong aja mikir! Udah to do point aja!!” canda Aurel menggoda Damar. Muka Damar semakin memerah,begitu juga aku.
Damar menarik nafas dalam-dalam,”gini key,soal yg tadi malem,lo kan belom jawab?” Tanya cowok yg mempunyai segudang fenz,karena wajah gantengnya,yg katanya mirip cristian bautinja (eh…salah bautista).
Wajahku makin memerah,aku benar-benar bingung. Disaat seperti ini aku benar-benar butuh pendapat Zi,tapi dia nggak ada disini. Aku bingung harus jawab apa.
“gazebo banget sih lo?!” ucap Aurel menggoda Damar,”lo mo nembak Key kaya gitu,nggak jentel banget sih lo?! Rayu dulu kek,buwat kata-kata manis kek!!” lanjut Aurel. Muka kami berdula semakin memerah.
”kasian lho si Damar. Liat tu mukanya udah kaya tomat gitu!!” ucap Ega mencoba membela Damar,”Damar itu nggak biasa nembak cewek. Kalo ditembak mah sering.” Lanjut cowok bermuka cabi ini, lalu langsung meluncurkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
“tau lo!! Ngerjain Damar aja!? Jawab donk key!!” ucap Ryan yang bertubuh besar menatapku tajam.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan mencoba membuka mulutku. Jenny menatapku,aku pun balas menatapnya dengan penuh Tanya. Ia memberi tanda.
Aku langsung membuka mulutku dan mencoba menggerakan lidahku yg terasa kaku,”ehmm...gini mar. Langsung aja yah?” ucapku dengan wajah pucatku,”soal pertanaan lo yg semalem,gw udah mikir panjang-panjang,dan jawaban gw..................................................ia.” jawabku dengan sangat grogi. Rasanya tubuhku membeku,aku tak sabar membagi kebahagian ini dengan Zi.
Hari ini aku resmi jadian sama Damar. Orang tertenar disekulahku. Moment ini sudah lama ku nantikan. aku ingin sekali membagi kebahagiaan ini dengan Zi...
-Bersambung-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar